Cokelat merupakan salah satu bahan makanan yang sering dianggap sebagai makanan yang menyenangkan. Namun, cokelat juga sebenarnya merupakan makanan yang ‘berdosa’ bagi masyarakat.

Cokelat pada awalnya dibentuk dari biji dari pohon cokelat (Theobroma cacao), yang pertama kali ditemukan di Mexico pada zaman Azetcs dengan nama ‘chocolatl’, bahkan mereka menggunakan cokelat sebagai mata uang.

Biji cokelat digiling hingga menghasilkan pasta cokelat yang berlemak, yang akan dicampur dengan gula dan bahan tambahan lainnya seperti lesitin dan vanilla. Walaupun memiliki kandungan lemak yang tinggi, biji cokelat memiliki kandungan gizi yang tinggi seperti sedikit protein, vitamin B, zat besi dan magnesium.

Cokelat kaya akan flavonoid seperti proanthocyanidins. Senyawa tersebut akan berperan sebagai antioksidan yang kuat untuk melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Lemak jenuh pada cokelat tidak meningkatkan kadar kolesterol seperti saat mengonsumsi daging atau produk susu karena lemak pada cokelat (cocoa butter) mengandung sterol tanaman (plant sterols), yaitu sitosterol, yang menghambat penyerapan kolesterol. Selain kaya akan antioksidan, cokelat juga mengandung arginin, theobromine dan juga sebuah stimulan yang bernama beta-phenylethylamine (PEA). Senyawa PEA tersebut berperan untuk meningkatkan mood. Hal ini dapat menjelaskan mengapa sebagian orang sangat ingin makan cokelat pada suatu kondisi tertentu atau menjadikan cokelat sebagai makanan dikala depresi.

Theobromine merupakan stimulan yang lebih ringan dibandingkan dengan kafein dan dikenal sebagai senyawa yang dapat membantu melepaskan hormon endorphins (senyawa dalam otak yang menciptakan perasaan bahagia). Namun, bagi penderita migrain atau insomnia, konsumsi cokelat harus diperhatikan karena cokelat mengandung 20mg kafein per 28gram. Cokelat juga mengandung asam oksalat yang menghambat penyerapan kalsium.

Cokelat merupakan salah satu makanan yang dapat memicu reaksi alergi atau memperparah gejala alergi yang sudah ada, seperti laringitis hingga asma. Bagi orang yang memiliki alergi cokelat, beberapa toko makanan memberikan opsi untuk mengganti cokelat dengan Carob, yaitu suatu bahan makanan yang juga berasal dari pohon dan memiliki rasa yang sangat mirip dengan cokelat. Carob diolah dan dijual dalam bentuk biskuit atau makanan manis lainnya.

Jenis cokelat yang banyak kita temui di sebagian besar pasar adalah cokelat olahan dengan campuran gula dan susu yang tinggi. Sedangkan manfaat-manfaat cokelat yang telah kita bahas sebelumnya akan kita dapatkan dari cokelat hitam yang mengandung cokelat murni lebih banyak. Cokelat hitam mengandung 50%-90% cokelat murni, dicampur dengan lemak cokelat (cocoa butter) dan gula, sedangkan cokelat olahan (milk chocolate) hanya mengandung 10% – 50% cokelat murni, dicampur dengan lemak cokelat, susu dan juga gula. Cokelat putih tidak memiliki kandungan cokelat murni sama sekali. Bahan yang digunakan hanya lemak cokelat, gula dan susu. Oleh karena itu, lebih baik memilih cokelat hitam dengan menyesuaikan prefrensi rasa yang dapat kita terima. Semakin tinggi persentase kadar cokelat, semakin pahit rasanya. Walaupun cokelat hitam memiliki sangat banyak manfaat, konsumsinya tetap perlu dibatasi karena cokelat hitam mengadung kalori yang cukup tinggi (150 – 170 kkal per 28gram). Semakin tinggi persentase cokelat hitam, kalori yang terkandung juga akan semakin tinggi namun jumlah gulanya akan semakin rendah karena kalori yang cukup tinggi tersebut berasal dari lemak cokelat yang secara alami terkandung dalam cokelat.

Sources:

Sharon, M. (2014). The Complete Guide to Nutrients. 6th ed. London: Carlton Books Limited, pp. 78-79.

Harvard T.H. Chan, 2018. The Nutrition Source: Dark Chocolate. [online] Available at: https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/food-features/dark-chocolate/ [Accessed 19 June 2019].

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started