Dalam kondisi diabetes, pengaturan pola makan merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Bagaimana manajemen pola makan yang baik bagi penderita diabetes?

Berdasarkan data riset kesehatan nasional tahun 2018, 10.9% dari populasi kita menderita penyakit diabetes. Hal yang dapat dimulai untuk menekan angka ini adalah dimulainya pengaturan penyelenggaraan pangan yang lebih sehat dalam keluarga. Diharapkan hal tersebut dapat kemudian diterapkan dalam cakupan yang lebih luas. Dalam penatalaksanaan diet diabetes, tiga hal utama yang harus diperhatikan adalah jenis, jadwal dan jumlah (3J). Berdasarkan arahan Perkeni (suatu organisasi dokter profesi yang berfokus pada diabetes), manajemen nutrisi pada penyakit diabetes sebenarnya tidak jauh berbeda dengan diet normal. Pemilihan jenis makanan yang dapat dilakukan seperti memilih karbohidrat kompleks daripada karbohidrat sederhana, memilih protein lemak rendah atau lemak sedang daripada lemak tinggi, dan juga memperhatikan tingkat glycemic load dan glycemic index pada buah dan makanan. Dalam hal kuantitas, harus dipahami berapa gram atau berapa banyak jumlah makanan dan minuman dalam takaran ukuran rumah tangga yang boleh dikonsumsi. Selain itu, pemilihan waktu makan juga berperan penting dalam menjaga kadar gula darah dalam tubuh.

Karbohidrat

  • Usahakan untuk selalu memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, singkong, ubi, kentang atau pun karbohidrat yang dapat ditemukan pada buah-buahan dan juga kacang-kacangan.
  • Gula dalam bumbu makanan diperbolehkan dalam takaran yang cukup agar penderita diabetes dapat makan bersama anggota keluarga lainnya.
  • Pemanis buatan dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake/ADI).
  • Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

Lemak

  • Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah makanan dengan kandungan lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi, seperti: daging berlemak, susu full cream, makanan-makanan dengan olahan deep-frying atau pun jajan pasar yang mengandung lemak jenuh seperti santan.

Protein

  • Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.
  • Pada pasien dengan gangguan ginjal perlu dilakukan penurunan asupan protein. Namun jika sudah menjalani hemodialisis (cuci darah), asupan protein dapat dikonsumsi dalam jumlah normal.

Natrium

  • Konsumsi natrium dalam sehari sebaiknya tidak lebih dari 2400mg, lebih baik lagi jika kita dapat dapat menekan hingga kurang dari 2000mg dengan selalu memeriksa jumlah natrium yang terkandung pada tabel informasi nilai gizi (terutama makanan dan minuman kemasan).
  • Penderita diabetes dengan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga sebaiknya mengurangi jumlah asupan natrium secara individual dengan mengonsumsi tidak lebih dari 1500mg natrium dalam satu hari.
  • Natrium atau sodium tidak hanya terdapat dalam garam dapur, tapi juga ditemukan secara alami pada makanan (tanpa tambahan apa pun), minuman botol, makanan kemasan, soda, maupun pengawet seperti natrium benzoate atau natrium nitrit.

Pemanis Alternatif

  • Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori.
  • Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti gula alkohol dan fruktosa.
  • Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
  • Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol yang kurang baik), namun tidak ada alasan menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengandung fruktosa alami.
  • Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose, neotame.

* Untuk mengetahui pemanis alternatif atau pemanis buatan yang terdapat di dalam suatu makanan, dapat dilihat di bagian ‘komposisi makanan’ atau ‘ingredients’ pada kemasan makanan atau minuman.

Sumber:

Rudijanto, A., Yuwono, A., Shahab, A. et al. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia. Jakarta: Perkeni, pp. 20-23.

WHO. Guideline: Sodium intake for adults and children. Geneva, World Health Organization (WHO), 2012.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started