Biji chia berukuran kecil, berwarna hitam keabuan dan kerap kali dianggap biji yang sama dengan biji selasih. Apakah kedua biji-bijian tersebut merupakan biji dari tanaman yang sama?
Biji chia atau yang dikenal dengan chia seeds merupakan bahan makanan yang dianggap sebagai salah satu superfoods. Di Indonesia, biji chia sering dianggap keliru dengan biji selasih. Keduanya memang memiliki kenampakan yang serupa, namun sebenarnya kedua biji tersebut berasal dari dua tanaman yang berbeda. Biji chia berasal dari tumbuhan Salvia hispanica L. sedangkan biji selasih berasal dari tanaman Ocimum basilicum.
Berasal dari negara Mexico dan Guatemala, biji chia berbentuk biji kecil berwarna hitam yang kaya akan serat tidak larut (insoluble fiber) dan asam amino omega-3 dalam bentuk asam alfa-linolenat (alpha-linolenic acid/ALA). Biji chia merupakan salah satu sumber asam amino omega-3 dari tanaman yang paling dikenal. Selain itu, biji chia juga mengandung protein dan beberapa mineral penting dan anti-oksidan seperti mangan, fosfor, tembaga, magnesium, dan kalsium. Konsumsi biji chia secara rutin dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes serta meningkatkan kondisi pencernaan.
Biji chia mengandung setidaknya 20% protein yang dapat membantu memperbaiki dan mencegah terjadinya protein malnutrisi.Terdapat banyak cara untuk menikmati biji chia seperti:
- Mencampurkan chia ke dalam makanan yang dipanggang.
- Menaburkan biji chia pada sereal yang hangat.
- Mencampurkan biji chia pada oatmeal.
- Menaburkan biji chia pada yogurt rendah lemak
- Mencampurkan biji chia pada pudding
- Digunakan sebagai pengganti telur. Untuk mensubstitusi 1 butir telur, dapat menggunakan 1 sendok makan biji chia utuh atau 2 sendok teh biji chia halus dicampur dengan 3 sendok makan air putih.
Bagaimana pun, biji chia berasal dari tumbuhan dan mengandung senyawa asam fitat di dalamnya. Dalam kondisi tanpa pengolahan, kandungan asam fitat pada kacang-kacangan, gandum atau pun biji-bijian dapat menghambat penyerapan beberapa mineral dan protein. Terdapat beberapa cara untuk membantu mengurangi kandungan asam fitat pada biji chia atau kacang-kacangan lainnya, misalnya dengan merendamnya atau dikonsumsi dengan makanan-makanan tinggi vitamin C. Jika dikonsumsi dalam salad, selain merendamnya dalam air, dapat juga dikonsumsi dengan cuka (vinegar) untuk membantu menurunkan kandungan asam fitat di dalamnya. Namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan bagi orang-orang mengonsumsi daging secara reguler. Kandungan asam fitat pada biji chia pun sebenarnya bukan yang terbanyak (dapat dilihat pada grafik). Referensi:Green, S. (2016). Optimum Nutrition. New York: Penguin Random House LLC, pp. 272-273.Bjarnadottir, Adda (2019). Chia Seeds 101: Nutrition Facts and Health Benefits. [online] Healthline. Available at: https://www.healthline.com/nutrition/foods/chia-seeds [Accessed 21 June. 2019].
Dahdouh, Sergio et al. (2019). Development of the FAO/INFOODS/IZINCG Global Food Composition Database for Phytate. Journal of Food Composition and Analysis, [online] 78, pp. 42-48. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6472536/pdf/main.pdf [Accessed 21 June. 2019].