BIJI CHIA (CHIA SEEDS)

Biji chia berukuran kecil, berwarna hitam keabuan dan kerap kali dianggap biji yang sama dengan biji selasih. Apakah kedua biji-bijian tersebut merupakan biji dari tanaman yang sama?

Biji chia atau yang dikenal dengan chia seeds merupakan bahan makanan yang dianggap sebagai salah satu superfoods. Di Indonesia, biji chia sering dianggap keliru dengan biji selasih. Keduanya memang memiliki kenampakan yang serupa, namun sebenarnya kedua biji tersebut berasal dari dua tanaman yang berbeda. Biji chia berasal dari tumbuhan Salvia hispanica L. sedangkan biji selasih berasal dari tanaman Ocimum basilicum.
Berasal dari negara Mexico dan Guatemala, biji chia berbentuk biji kecil berwarna hitam yang kaya akan serat tidak larut (insoluble fiber) dan asam amino omega-3 dalam bentuk asam alfa-linolenat (alpha-linolenic acid/ALA). Biji chia merupakan salah satu sumber asam amino omega-3 dari tanaman yang paling dikenal. Selain itu, biji chia juga mengandung protein dan beberapa mineral penting dan anti-oksidan seperti mangan, fosfor, tembaga, magnesium, dan kalsium. Konsumsi biji chia secara rutin dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes serta meningkatkan kondisi pencernaan.
Biji chia mengandung setidaknya 20% protein yang dapat membantu memperbaiki dan mencegah terjadinya protein malnutrisi.Terdapat banyak cara untuk menikmati biji chia seperti:

  • Mencampurkan chia ke dalam makanan yang dipanggang.
  • Menaburkan biji chia pada sereal yang hangat.
  • Mencampurkan biji chia pada oatmeal.
  • Menaburkan biji chia pada yogurt rendah lemak
  • Mencampurkan biji chia pada pudding
  • Digunakan sebagai pengganti telur. Untuk mensubstitusi 1 butir telur, dapat menggunakan 1 sendok makan biji chia utuh atau 2 sendok teh biji chia halus dicampur dengan 3 sendok makan air putih.

Bagaimana pun, biji chia berasal dari tumbuhan dan mengandung senyawa asam fitat di dalamnya. Dalam kondisi tanpa pengolahan, kandungan asam fitat pada kacang-kacangan, gandum atau pun biji-bijian dapat menghambat penyerapan beberapa mineral dan protein. Terdapat beberapa cara untuk membantu mengurangi kandungan asam fitat pada biji chia atau kacang-kacangan lainnya, misalnya dengan merendamnya atau dikonsumsi dengan makanan-makanan tinggi vitamin C. Jika dikonsumsi dalam salad, selain merendamnya dalam air, dapat juga dikonsumsi dengan cuka (vinegar) untuk membantu menurunkan kandungan asam fitat di dalamnya. Namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan bagi orang-orang mengonsumsi daging secara reguler. Kandungan asam fitat pada biji chia pun sebenarnya bukan yang terbanyak (dapat dilihat pada grafik). Referensi:Green, S. (2016). Optimum Nutrition. New York: Penguin Random House LLC, pp. 272-273.Bjarnadottir, Adda (2019). Chia Seeds 101: Nutrition Facts and Health Benefits. [online] Healthline. Available at: https://www.healthline.com/nutrition/foods/chia-seeds [Accessed 21 June. 2019].
Dahdouh, Sergio et al. (2019). Development of the FAO/INFOODS/IZINCG Global Food Composition Database for Phytate. Journal of Food Composition and Analysis, [online] 78, pp. 42-48. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6472536/pdf/main.pdf [Accessed 21 June. 2019].

GULA DAN JERAWAT?

Terdapat banyak faktor dapat menyebabkan timbulnya jerawat. Ternyata, salah satu faktor yang mungkin meningkatkan risiko untuk menimbulkan jerawat adalah gula yang kita konsumsi sehari-hari.

Mitos mengenai jerawat sering kali muncul di banyak media. Alasan atas timbulnya jerawat memang masih belum bisa dipastikan, namun terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan jerawat baru atau memperburuk kondisi jerawat yang sudah ada, termasuk perubahan tingkat hormon, genetik dan stres pikiran. Akhir-akhir ini, dokter-dokter kulit mencoba menelaah apakah adanya hubungan antara pola makan dan timbulnya jerawat merupakan sebuah mitos. Beberapa penelitian telah menguji akan adanya hubungan antara asupan makanan dan timbulnya jerawat, terutama yang berasal dari karbohidrat dan produk susu. Bukti lebih lanjut membawa para ahli kulit untuk meneliti lebih jauh lagi akan adanya posibilitas bagi suatu makanan tertentu yang memang memperburuk kondisi jerawat atau memicu timbulnya jerawat. Bagaimana pun, dokter-dokter kulit setuju bahwa pola makan memang bukanlah kunci utama untuk menyembuhkan jerawat, namun satu aspek yang penting dalam meningkatkan keefektifan pengobatan jerawat.
Makanan Tinggi Indeks Glikemik Dapat Memperburuk JerawatIndeks glikemik (IG) merupakan suatu ukuran untuk melihat peringkat kandungan karbohidrat pada makanan berdasarkan kemampuan makanan tersebut untuk meningkatkan kadar gula darah. Makanan dengan kandungan IG yang tinggi akan meningkatkan kadar gula darah lebih cepat dibandingkan daripada makanan dengan tingkat IG yang rendah. Sedangkan parameter lain yang disebut beban glikemik (glycemic load), akan menilai berdasarkan kualitas (jenis) dan kuantitas (jumlah) karbohidrat yang terdapat dalam satu porsi makanan. Contohnya, makanan tinggi IG seperti roti putih dan keripik, makanan rendah IG termasuk roti gandum, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan kacang-kacangan. Selama beberapa tahun, terdapat spekulasi bahwa makanan tinggi kandungan IG berkontribusi dalam terjadinya jerawat.
Berikut beberapa penelitian yang telah membuktikan hal ini:

  • Sebuah penelitian pada 23 laki-laki Australia berusia 15-25 tahun yang mengikuti diet ketat makanan-makanan dengan beban karbohidrat (glycemic load) rendah membuktikan adanya hubungan yang kuat antara makanan dan timbulnya jerawat. Kelompok ini juga mengalami perbaikan signifikan pada jerawat yang cukup parah dengan mengikuti pola makan rendah beban-karbohidrat ini.
  • Suatu penilaian dari survei mengenai peran pola makan rendah beban-karbohidrat untuk membantu menangani jerawat menunjukkan hasil bahwa 86.7% dari 2.528 orang yang sedang berdiet melaporkan adanya perbaikan pada kulit mereka dengan menjalankan diet ini.

Beberapa orang melaporkan adanya kemungkinan efek konsumsi produk susu pada kondisi jerawat. Salah satu jenis susu yang mungkin memiliki hubungan dengan tingkat keparahan jerawat adalah susu tanpa lemak (skim milk) yang akan berhubungan dengan terjadinya perubahan hormon dan karena sebagian besar pabrik susu menambahkan protein whey pada produk susu tanpa lemak (skim milk), di mana memiliki hubungan dengan adanya sifat komedogenik. namun belum ada bukti yang cukup kuat untuk membuktikan pernyatan tersebut. Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut apakah susu benar-benar mempengaruhi tingkat keparahan jerawat.
Selain menghindari makanan-makanan tinggi beban-karbohidrat (glycemic load) seperti makanan atau minuman tinggi gula, soda, jus kemasan, roti putih, pasta dan sereal olahan, hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi tingkat keparahan jerawat adalah dengan membatasi frekuensi mencuci muka (tidak terlalu sering namun tetap dijaga dalam kondisi bersih) maksimal dua kali dalam sehari, menggunakan pembersih yang ringan bagi kulit yang sensitif, memilih poduk yang tidak menggunakan pewangi dan juga selalu menggunakan tabir surya (sunscreen) terutama orang-orang yang baru saja melakukan perawatan terhadap kondisi jerawat.
Referensi:American Academy of Dermatology Association. 2013. Growing Evidence Suggests Possible Link Between Diet and Acne. [online] Available at: https://www.aad.org/media/news-releases/growing-evidence-suggests-possible-link-between-diet-and-acne [Accessed 24 June. 2019]Campos, Marcelo (2019). Acne: What you need to know. [online] Harvard Health Publishing. Available at: https://www.health.harvard.edu/blog/acne-what-you-need-to-know-2019010315717 [Accessed 24 June. 2019]
Kucharska, A., Szmurlo, A., and Sinska, B (2016). Significance of diet in treated and untreated acne vulgaris. Advances in Dermatology and Allergology. [online] 2, pp. 81-86. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4884775/ [Accessed on 26 June. 2019].

APAKAH COKELAT SEHAT?

Cokelat merupakan salah satu bahan makanan yang sering dianggap sebagai makanan yang menyenangkan. Namun, cokelat juga sebenarnya merupakan makanan yang ‘berdosa’ bagi masyarakat.

Cokelat pada awalnya dibentuk dari biji dari pohon cokelat (Theobroma cacao), yang pertama kali ditemukan di Mexico pada zaman Azetcs dengan nama ‘chocolatl’, bahkan mereka menggunakan cokelat sebagai mata uang.

Biji cokelat digiling hingga menghasilkan pasta cokelat yang berlemak, yang akan dicampur dengan gula dan bahan tambahan lainnya seperti lesitin dan vanilla. Walaupun memiliki kandungan lemak yang tinggi, biji cokelat memiliki kandungan gizi yang tinggi seperti sedikit protein, vitamin B, zat besi dan magnesium.

Cokelat kaya akan flavonoid seperti proanthocyanidins. Senyawa tersebut akan berperan sebagai antioksidan yang kuat untuk melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Lemak jenuh pada cokelat tidak meningkatkan kadar kolesterol seperti saat mengonsumsi daging atau produk susu karena lemak pada cokelat (cocoa butter) mengandung sterol tanaman (plant sterols), yaitu sitosterol, yang menghambat penyerapan kolesterol. Selain kaya akan antioksidan, cokelat juga mengandung arginin, theobromine dan juga sebuah stimulan yang bernama beta-phenylethylamine (PEA). Senyawa PEA tersebut berperan untuk meningkatkan mood. Hal ini dapat menjelaskan mengapa sebagian orang sangat ingin makan cokelat pada suatu kondisi tertentu atau menjadikan cokelat sebagai makanan dikala depresi.

Theobromine merupakan stimulan yang lebih ringan dibandingkan dengan kafein dan dikenal sebagai senyawa yang dapat membantu melepaskan hormon endorphins (senyawa dalam otak yang menciptakan perasaan bahagia). Namun, bagi penderita migrain atau insomnia, konsumsi cokelat harus diperhatikan karena cokelat mengandung 20mg kafein per 28gram. Cokelat juga mengandung asam oksalat yang menghambat penyerapan kalsium.

Cokelat merupakan salah satu makanan yang dapat memicu reaksi alergi atau memperparah gejala alergi yang sudah ada, seperti laringitis hingga asma. Bagi orang yang memiliki alergi cokelat, beberapa toko makanan memberikan opsi untuk mengganti cokelat dengan Carob, yaitu suatu bahan makanan yang juga berasal dari pohon dan memiliki rasa yang sangat mirip dengan cokelat. Carob diolah dan dijual dalam bentuk biskuit atau makanan manis lainnya.

Jenis cokelat yang banyak kita temui di sebagian besar pasar adalah cokelat olahan dengan campuran gula dan susu yang tinggi. Sedangkan manfaat-manfaat cokelat yang telah kita bahas sebelumnya akan kita dapatkan dari cokelat hitam yang mengandung cokelat murni lebih banyak. Cokelat hitam mengandung 50%-90% cokelat murni, dicampur dengan lemak cokelat (cocoa butter) dan gula, sedangkan cokelat olahan (milk chocolate) hanya mengandung 10% – 50% cokelat murni, dicampur dengan lemak cokelat, susu dan juga gula. Cokelat putih tidak memiliki kandungan cokelat murni sama sekali. Bahan yang digunakan hanya lemak cokelat, gula dan susu. Oleh karena itu, lebih baik memilih cokelat hitam dengan menyesuaikan prefrensi rasa yang dapat kita terima. Semakin tinggi persentase kadar cokelat, semakin pahit rasanya. Walaupun cokelat hitam memiliki sangat banyak manfaat, konsumsinya tetap perlu dibatasi karena cokelat hitam mengadung kalori yang cukup tinggi (150 – 170 kkal per 28gram). Semakin tinggi persentase cokelat hitam, kalori yang terkandung juga akan semakin tinggi namun jumlah gulanya akan semakin rendah karena kalori yang cukup tinggi tersebut berasal dari lemak cokelat yang secara alami terkandung dalam cokelat.

Sources:

Sharon, M. (2014). The Complete Guide to Nutrients. 6th ed. London: Carlton Books Limited, pp. 78-79.

Harvard T.H. Chan, 2018. The Nutrition Source: Dark Chocolate. [online] Available at: https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/food-features/dark-chocolate/ [Accessed 19 June 2019].

BAGAIMANA MANAJEMEN NUTRISI PADA DIABETES?

Dalam kondisi diabetes, pengaturan pola makan merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Bagaimana manajemen pola makan yang baik bagi penderita diabetes?

Berdasarkan data riset kesehatan nasional tahun 2018, 10.9% dari populasi kita menderita penyakit diabetes. Hal yang dapat dimulai untuk menekan angka ini adalah dimulainya pengaturan penyelenggaraan pangan yang lebih sehat dalam keluarga. Diharapkan hal tersebut dapat kemudian diterapkan dalam cakupan yang lebih luas. Dalam penatalaksanaan diet diabetes, tiga hal utama yang harus diperhatikan adalah jenis, jadwal dan jumlah (3J). Berdasarkan arahan Perkeni (suatu organisasi dokter profesi yang berfokus pada diabetes), manajemen nutrisi pada penyakit diabetes sebenarnya tidak jauh berbeda dengan diet normal. Pemilihan jenis makanan yang dapat dilakukan seperti memilih karbohidrat kompleks daripada karbohidrat sederhana, memilih protein lemak rendah atau lemak sedang daripada lemak tinggi, dan juga memperhatikan tingkat glycemic load dan glycemic index pada buah dan makanan. Dalam hal kuantitas, harus dipahami berapa gram atau berapa banyak jumlah makanan dan minuman dalam takaran ukuran rumah tangga yang boleh dikonsumsi. Selain itu, pemilihan waktu makan juga berperan penting dalam menjaga kadar gula darah dalam tubuh.

Karbohidrat

  • Usahakan untuk selalu memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, singkong, ubi, kentang atau pun karbohidrat yang dapat ditemukan pada buah-buahan dan juga kacang-kacangan.
  • Gula dalam bumbu makanan diperbolehkan dalam takaran yang cukup agar penderita diabetes dapat makan bersama anggota keluarga lainnya.
  • Pemanis buatan dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake/ADI).
  • Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

Lemak

  • Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah makanan dengan kandungan lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi, seperti: daging berlemak, susu full cream, makanan-makanan dengan olahan deep-frying atau pun jajan pasar yang mengandung lemak jenuh seperti santan.

Protein

  • Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.
  • Pada pasien dengan gangguan ginjal perlu dilakukan penurunan asupan protein. Namun jika sudah menjalani hemodialisis (cuci darah), asupan protein dapat dikonsumsi dalam jumlah normal.

Natrium

  • Konsumsi natrium dalam sehari sebaiknya tidak lebih dari 2400mg, lebih baik lagi jika kita dapat dapat menekan hingga kurang dari 2000mg dengan selalu memeriksa jumlah natrium yang terkandung pada tabel informasi nilai gizi (terutama makanan dan minuman kemasan).
  • Penderita diabetes dengan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga sebaiknya mengurangi jumlah asupan natrium secara individual dengan mengonsumsi tidak lebih dari 1500mg natrium dalam satu hari.
  • Natrium atau sodium tidak hanya terdapat dalam garam dapur, tapi juga ditemukan secara alami pada makanan (tanpa tambahan apa pun), minuman botol, makanan kemasan, soda, maupun pengawet seperti natrium benzoate atau natrium nitrit.

Pemanis Alternatif

  • Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori.
  • Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti gula alkohol dan fruktosa.
  • Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
  • Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol yang kurang baik), namun tidak ada alasan menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengandung fruktosa alami.
  • Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose, neotame.

* Untuk mengetahui pemanis alternatif atau pemanis buatan yang terdapat di dalam suatu makanan, dapat dilihat di bagian ‘komposisi makanan’ atau ‘ingredients’ pada kemasan makanan atau minuman.

Sumber:

Rudijanto, A., Yuwono, A., Shahab, A. et al. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia. Jakarta: Perkeni, pp. 20-23.

WHO. Guideline: Sodium intake for adults and children. Geneva, World Health Organization (WHO), 2012.

HOW TO READ YOUR FOOD LABEL?

Tabel informasi gizi pada kemasan makanan atau minuman dapat memberikan kita informasi mengenai banyaknya zat gizi tertentu yang kita asup sehingga dapat membantu kita mengontrol total konsumsi harian kita.

Dalam mengonsumsi makanan atau minuman kemasan sebaiknya kita selalu memperhatikan kandungan zat gizi yang ada di dalamnya melalui tabel informasi nilai gizi. Bagi penderita diabetes, beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan seksama dalam tabel informasi nilai gizi adalah:

  • Temukan jika terdapat bahan yang sehat bagi jantung seperti oats, gandum atau pun kedelai. Selain itu, lemak tidak jenuh seperti minyak olive atau canola juga baik bagi kesehatan jantung.
  • Hindari lemak jenuh seperti minyak goreng terhidrogrenasi.

Mohon untuk selalu diingat bahwa pada bagian komposisi bahan pangan, bahan yang disebutkan pertama merupakan bahan dengan proporsi kandungan terbesar dalam makanan tersebut. Bahan selanjutnya yang disebutkan dalam komposisi tersebut, semakin menurun jumlahnya sesuai dengan urutan penulisannya.

Selain itu, beberapa hal yang juga harus diperhatikan adalah:

https://www.fda.gov/food/food-labeling-nutrition/nutrition-education-resources-materials

  • Perhatikan total karbohidrat pada tabel informasi gizi, tidak hanya jumlah gula yang terkandung dalam makanan dan minuman tersebut. Lihat berapa gram total karbohidrat dalam makanan tersebut termasuk gula tambahan, karbohidrat kompleks dan serat – tidak hanya mengecek jumlah gula tambahan yang ada di dalalmnya. Dalam konteks lain, kita mungkin saja mengonsumsi makanan yang tidak memiliki gula tambahan, namun tinggi karbohidrat, seperti sereal dan gandum.
  • Pilihlah makanan dengan jumlah serat yang tinggi. Sebaiknya pilihlah makanan yang memiliki kandungan serat sebanyak 3gram atau lebih. Saat kita sedang menghitung total karbohidrat yang kita asup, pada makanan dengan kandungan serat lebih dari 5gram, kita dapat menambahkan setengah dari jumlah serat tersebut sebagai bagian dari total karbohidrat. Tingginya asupan serat dapat membantu menghambat penyerapan karbohidrat dalam bentuk yang lebih sederhana.
  • Produk bebas gula (sugar-free) tidak berarti bebas karbohidrat. Walaupun produk bebas gula mungkin bermanfaat bagi diet Anda, hal yang perlu diingat adalah karbohidrat merupakan hal yang juga penting untuk diperhatikan. Sebuah produk yang makanan yang memberikan klaim ‘bebas gula’ harus memiliki kandungan gula tidak lebih dari 0.5gram. Saat kita akan memilih produk bebas gula, usahakan untuk tetap selalu membandingkan tabel informasi gizi-nya terlebih dahulu. Jika kandungan karbohidrat pada produk bebas gula lebih rendah dibandingkan produk standar, maka produk tersebut dapat menjadi pilihan yang lebih baik.
  • Gula alkohol tetap mengandung karbohidrat dan gula. Produk yang mengandung gula alkohol seperti sorbitol, xylitol, dan mannitol tidak berarti rendah karbohidrat dan rendah kalori.
  • Pada beberapa produk yang mengklaim bebas lemak atau fat-free, bukan berarti produk tersebut dapat dipastikan memiliki kandungan karbohidrat yang rendah juga.

Source: Mayo Clinic, 2019. Reading food labels: Tips if you have diabetes. [online] Available at: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetes/in-depth/food-labels/art-20047648 [Accessed 12 June, 2019]

U.S. Food and Drugs Administration, 2018. New and Improved Nutrition Facts Label. [online] Available at: https://www.fda.gov/food/nutrition-education-resources-and-materials/new-and-improved-nutrition-facts-label [Accessed 12 June, 2019]

NATRIUM YANG TERSEMBUNYI (THE HIDDEN NATRIUM)

Natrium atau sodium lebih banyak dikenal dengan ‘garam’ (NaCl) dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, natrium tidak hanya terdapat dalam garam meja atau garam dapur yang kita konsumsi. Banyak tempat lain di mana natrium tersembunyi dapat ditemukan.

Mengapa konsumsi natrium harus dibatasi?

Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh World Health Organization, konsumsi natrium yang direkomendasikan dalam satu hari adalah tidak lebih dari 2000mg bagi orang normal. Menurut American Heart Association, asupan yang ideal bagi seseorang untuk tetap berada dalam asupan yang lebih aman adalah tidak lebih dari 1000mg per hari. Asupan natrium kita dalam sehari sebaiknya tidak melebihi angka rekomendasi tersebut karena asupan yang terlalu tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Salah satunya adalah organ ginjal yang dapat terbebani akibat kandungan natrium yang terlalu tinggi dalam tubuh.

Saat terjadi akumulasi natrium dari makanan dan minuman, tubuh kita menyimpan air lebih banyak sehingga akan meningkatkan volume darah di dalam pembuluh darah. Dengan volume yang meningkat, jantung akan memberikan kompensasi dengan memompa darah lebih cepat. Pemompaan yang cepat akan memberikan tekanan yang lebih besar pada pembuluh darah. Dengan demikian, saat dilakukan pengukuran tekanan darah (tensi) akan didapatkan angka tekanan darah yang tinggi.

Sebanyak apa natrium yang kita konsumsi?

Untuk mengetahui seberapa banyak jumlah natrium yang kita konsumsi, kita dapat memeriksa dengan melihat tabel informasi gizi yang terdapat pada kemasan makanan. Hampir semua makanan dan minuman kemasan memiliki kandungan natrium. Makanan kemasan yang memiliki rasa yang gurih pada umumnya memiliki kandungan natrium yang tinggi, begitu juga dengan minuman isotonik.

Kandungan natrium dalam makanan kemasan harus diperhitungkan, begitu juga natrium yang kita dapatkan dari garam yang ditambahkan dalam makanan kita baik pada saat proses memasak atau pun saat makanan sudah disajikan.

Berikut dapat kita lihat rata-rata asupan natrium yang berasal dari garam yang ditambahkan dalam makanan kita:

· 1/4 sendok teh = 575 mg sodium

· 1/2 sendok teh = 1,150 mg sodium

· 3/4 sendok teh = 1,725 mg sodium

· 1 sendok teh = 2,300 mg sodium

Berikut dapat kita lihat The Salty-Six dari American Heart Association yang merupakan 6 kelompok makanan dan minuman tinggi natrium:

Resources:

Harvard T.H. Chan, 2018. The Nutrition Source: Salt and Sodium. [online] Available at: https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/salt-and-sodium/ [Accessed 1 July 2019].

American Heart Association, 2016. Shaking the Salt Habit to Lower High Blood Pressure.

[online] Available at: https://www.heart.org/en/health-topics/high-blood-pressure/changes-you-can-make-to-manage-high-blood-pressure/shaking-the-salt-habit-to-lower-high-blood-pressure [Accessed 1 July 2019].

DIET DASH Tips dining out dengan diet DASH

Jauhkan garam meja pada waktu makan

Salah satu cara yang mungkin dapat membantu adalah dengan tidak menyiapkan garam meja pada waktu makan. Diharapkan tendensi untuk menambahkan garam pada saat makan akan berkurang.

Menilik menu restoran yang dituju sebelum pergi

Sebelum pergi ke restoran yang dituju, sebaiknya kita telah melihat menu apa yang dapat kita pilih dengan menghindari bahan-bahan makanan tertentu yang mengandung sodium yang tinggi seperti acar asam, sosis, smoked beef, ham, salami atau pun bahan makanan lain dengan pengolahan tinggi.

Modifikasi pesanan

Saat memesan makanan, kita dapat menyampaikan untuk tidak menambahkan garam, MSG, atau bahan makanan pelengkap lainnya yang mengandung sodium yang tinggi seperti bacon, salami, smoked beef, acar buah zaitun atau pun keju olahan.

Menambahkan bumbu tambahan secukupnya

Seringkali kita menambahkan saus tomat, saus sambal, kecap, mustard atau pun bahan pelengkap lainnya yang mengandung sodium yang tinggi pada makanan.

Pilihlah makanan pembuka yang sehat

Daripada memilih makanan penutup dengan kandungan garam yang tinggi, lebih baik memilih buah atau sayuran sebagai makanan pembuka.

Referensi:

National Heart, Lung, and Heart Institute (2019). Tips to Reduce Salt and Sodium. [online] Available at: https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/dash-eating-plan [Accessed 09 July. 2019].

101 DIABETES

Diabetes adalah suatu kondisi dimana glukosa atau gula darah seseorang terlalu tinggi. Seiring berjalannya waktu, tingginya gula darah akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung, kerusakan saraf, gangguan mata, dan penyakit ginjal.

Pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke tujuh dunia untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi di dunia dengan jumlah estimasi orang dengan diabetes sebesar 10 juta (IDF 2015). Sementara itu prevalensi populasi dengan berat badan berlebih atau overweight adalah 13,5% (Riskesdas 2018) dan Obesitas 21.8% (Riskesdas 2018), nilai ini terus meningkat setiap tahunnya, hampir dua kali lipat jika dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Berat badan berlebih dan obesitas merupakan salah satu faktor risiko terbesar penyebab terus meningkatnya penderita diabetes.

Bagaimana Pengelompokkan Diabetes?

Tipe yang paling sering ditemukan adalah Diabetes Tipe 1, Diabetes tipe 2, dan Gestasional Diabetes. Pengelompokkan ini dilakukan berdasarkan penyebab dari diabetes sendiri.

1. Diabetes Tipe 1

Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak memproduksi insulin. Imun sistem di dalam tubuh menyerang dan merusak sel di pankreas yang berfungsi untuk memproduksi insulin. Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis ketika usia anak-anak dan dewasa muda, walaupun dapat ditemukan pada berbagai usia. Seseorang dengan diabetes tipe 1 memerlukan suplai insulin harian agar dapat berada dalam kondisi yang stabil.

2. Diabetes Tipe 2

Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak memproduksi insulin dengan cukup atau tidak dapat memakai insulin dengan baik. Diabetes tipe 2 dapat diderita oleh berbagai usia, bahkan di usia anak-anak. Namun lebih sering ditemukan pada usia paruh baya dan lansia. Diabetes tipe 2 adalah tipe yang paling sering didapatkan.

3. Diabetes Gestasional

Diabetes Gestasional adalah diabetes yang terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga pada kehamilan. Pada kebanyakan kasus, diabetes ini akan hilang setelah bayi dilahirkan. Pada seseorang yang menderita diabetes saat hamil, ia akan mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari.

4. Diabetes tipe spesifik karena sebab lain, seperti misalnya sindrom diabetes monogenik seperti diabetes ada bayi berumur kurang dari 6 bulan, diabetes akibat penyakit pada pankreas seperti pankreatitis (peradangan pada pankreas).

Siapa yang Berisiko?

Diagnosis diabetes dilakukan oleh profesional medis baik Dokter Umum maupun Dokter Spesialis, dengan pemeriksaan komprehensif termasuk menggunakan pemeriksaan penunjang seperti Pemeriksaan lab berupa pemeriksaan glukosa darah, pemeriksaan glikohemoglobin.

Deteksi dini diabetes harus dilakukan pada orang-orang tanpa gejala diabetes yang mempunyai risiko tinggi, seperti

1. Dewasa Asia dengan Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index/BMI ≥23 kg/m2 yang mempunyai satu atau lebih kondisi seperti:

  • Mempunyai orangtua, saudara kandung, atau anak kandung yang menderita diabetes.
  • Mempunyai riwayat Penyakit Jantung
  • Hipertensi (tekanan darah ≥140/90 mmHg atau dalam pengobatan untuk hipertensi)
  • Kolesterol HDL <35 mg/dL dan/atau Trigliserid >250 mg/dL
  • Wanita dengan sindrom ovarium polikistik/Polycistic Ovarium Syndrome (PCOs)
  • Tidak aktif secara fisik
  • Kondisi lain yang berhubungan dengan resistensi insulin seperti obesitas berat.

2. Dewasa dengan hasil pemeriksaan lab yang menunjukkan kondisi prediabetes seperti nilai HbA1C ≥5.7% – 6.4%, glukosa darah puasa terganggu dengan nilai antara ≥100 mg/dL dan <126 mg/dL, individu pada kondisi ini harus diperiksa parameter diabetes secara berkala setiap tahun untuk mencegah berkembangnya kondisi tersebut menjadi diabetes.

3. Wanita yang pernah didiagnosis dengan diabetes saat kehamilan, harus diperiksa setiap 3 tahun seumur hidupnya.

4. Untuk seluruh populasi yang berusia di atas 45 tahun harus melakukan pemeriksaan skrining diabetes.

5. Apabila hasil skrining normal, maka pemeriksaan harus diulang setidaknya setiap 3 tahun, namun dapat lebih sering tergantung dengan kondisi medis setiap orang.

Referensi:

American Diabetes Association, 2018, Standards of Medical Care in Diabetes [online] Available at: https://diabetesed.net/wp-content/uploads/2017/12/2018-ADA-Standards-of-Care.pdf

Sudoyo AW, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata M, dan Setiati S. 2009. Buku Ajar Ilmu. Penyakit Dalam Edisi 5. Jakarta: Interna.

The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. 2019. Diabetes [online] Available at: https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes

GLIKOHEMOGLOBIN

Hemoglobin A1C atau disebut juga Glikohemoglobin atau hemoglobin terglikasi adalah pemeriksaan laboratorium melalui sample darah yang akan memberikan informasi mengenai kadar rata-rata gula darah seseorang dalam 2-3 bulan terakhir. Penderita diabetes membutuhkan pemeriksaan ini secara rutin setiap 2-3 bulan untuk mengetahui apakah kadar gula darah mereka berada dalam rentang terkontrol atau tidak. HbA1C dapat digunakan untuk melakukan diagnosa awal diabetes. Untuk mereka yang sudah terdiagnosis diabetes, HbA1C dapat digunakan dalam manajemen perawatan diabetes yaitu untuk mengetahui apakah terapi yang diberikan dalam 3 bulan terakhir sudah optimal atau belum, termasuk membantu penyesuaian dosis obat, agar mencapai target terapi dengan optimal dan mencegah timbulnya komplikasi.

Mengapa Hemoglobin?

Hemoglobin adalah protein yang terdapat pada sel darah merah. Hemoglobin memberikan warna merah pada darah dan bertugas untuk membawa dan menghantarkan oksigen dari paru-paru kita ke ke seluruh sel di dalam tubuh. Kekurangan hemoglobin dalam tubuh kita sering kita sebut dengan anemia.

Lalu apa hubungan hemoglobin dengan sel darah?

Gula di dalam tubuh kita disebut dengan glukosa, glukosa didapatkan dari makanan. Glukosa beredar di dalam tubuh kita dengan cara bergandengan dengan hemoglobin dari sel darah merah kita. Umur sel darah merah kita kurang lebih 90 hari atau 3 bulan, sehingga pemeriksaan A1C akan menunjukkan kadar rata-rata glukosa di dalam darah kita selama 3 bulan terakhir. Sebagai contoh, apabila kadar glukosa darah seseorang meningkat dalam beberapa minggu terakhir, maka hasil pemeriksaan kadar A1C-nya juga akan meningkat.

Berapa cara membaca hasilnya?

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, A1C dapat digunakan untuk mendiagnosa diabetes tipe 2. Untuk orang normal nilai yang diharapkan adalah antara 4% – 5.6%. Nilai A1C 5.7% – 6.4% menunjukkan seseorang mempunyai risiko tinggi untuk terkena diabetes tipe 2 atau disebut dengan kondisi prediabetes. Sedangkan nilai 6.5% atau lebih menunjukkan seseorang menderita Diabetes Tipe 2 (Semua pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosa diabetes perlu dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan kedua, kecuali gejala yang timbul sangat mendukung untuk mendiagnosa diabetes).

Pada seseorang yang mempunyai riwayat keluarga dengan diabetes, gaya hidup yang kurang aktif, dan pola makan yang tidak seimbang, nilai A1C yang menunjukkan prediabetes menjadi tanda waspada dan harus segera dilakukan perubahan perilaku gaya hidup sehat agar tidak berkembang menjadi penyakit diabetes. Pada pasien diabetes, nilai A1C diharapkan di bawah 7%, semakin tinggi nilai A1C maka semakin tinggi pula risiko untuk menderita komplikasi dari diabetes.

Bagaimana cara mengonversi ke nilai glukosa darah pada umumnya?

eAG atau estimated average plasma glucose atau estimasi nilai rata-rata glukosa adalah nilai konversi dari hasil A1C (dalam persen) ke dalam nilai glukosa darah yang sudah biasa dimengerti oleh pasien (dalam mg/dl). Berikut tabel konversi tersebut:

Referensi:

Sudoyo AW, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata M, dan Setiati S. 2009. Buku Ajar Ilmu. Penyakit Dalam Edisi 5. Jakarta: Interna.

American Diabetes Association, 2018, A1C and eAG [online] Available at: http://www.diabetes.org/living-with-diabetes/treatment-and-care/blood-glucose-control/a1c/

WebMD Medical Reference, 2018, Hemoglobin A1c (HbA1c) Test for Diabetes [online] Available at: https://www.webmd.com/diabetes/guide/glycated-hemoglobin-test-hba1c

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), 2018, The A1C Test & Diabetes [online] Available at: https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/tests-diagnosis/a1c-test

Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018, Hasil Utama Riskesdas, [online] Available at: http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi_rakorpop_2018/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf.

Design a site like this with WordPress.com
Get started