KOMPLIKASI DIABETES

Pada tahun 2015, 415 juta orang dewasa dengan diabetes, kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta di tahun 1980an. Pada tahun 2040 diperkirakan jumlahnya kan menjadi 642 juta (IDF Atlas 2015). Diabetes menjadi beban yang besar bagi komunitas dan keuangan negara. Pada tahun 2013, salah satu beban pengeluaran kesehatan terbesar di dunia adalah diabetes, yaitu sekitar 612 miliar dolar, atau sekitar 8,7 Trilliun rupiah. Tingginya beban keuangan ini akibat terjadinya komplikasi multi organ yang dapat menyerang penderita diabetes. Ditambah lagi, diabetes terjadi 10 tahun lebih cepat pada populasi dengan usia paling produktif di wilayah regional Asia Tenggara daripada orang-orang dari wilayah Eropa.

Diabetes dengan komplikasi merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia. Dua pertiga orang dengan diabetes di Indonesia tidak mengetahui dirinya memiliki diabetes, dan berpotensi untuk mengakses layanan kesehatan dalam kondisi terlambat dan sudah mengalami komplilkasi yang akan menyebabkan beban keuangan semakin tinggi.

Komplikasi akibat penyakit diabetes biasanya dialami beberapa tahun setelah menderita diabetes. Komplikasi diabetes secara garis besar dibagi menjadi dua jenis komplikasi, yaitu komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. Komplikasi mikrovaskular contohnya penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan dan penyakit ginjal yang dapat berakhir menjadi gagal ginjal. Sedangkan komplikasi makrovaskular seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan saraf tepi. Orang yang menderita diabetes mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita penyakit jantung dan stroke dibandingkan orang-orang yang tidak menderita diabetes, dan biasanya terjadi pada usia muda.

Komplikasi tersebut dapat dicegah dengan:

  • Kontrol parameter laboratorium: A1C terkontrol dibawah 7%, tekanan darah baik, kolesterol darah kurang dari 200 mg/dl.
  • Berhenti merokok
  • Menjalankan program makan sesuai dengan perencanaan makan individu yang diberikan oleh Ahli Gizi
  • Mengadopsi gaya hidup aktif dan berolahraga dengan teratur.
  • Minum obat sesuai dengan arahan Dokter.
  • Menghindari stress.
  • Memahami kompleksitas dan progresivitas penyakit diabetes yang dapat memburuk bila tidak dikontrol dengan baik.

Pada pasien diabetes yang melakukan perubahan perilaku dengan pengendalian glukosa darah yang baik, gaya hidup yang sehat dan aktif, tidak menutup kemungkinan pasien tersebut dapat hidup bebas dari komplikasi selama beberapa dekade.

Untuk menunjang pencegahan komplikasi pada pasien diabetes, perawatan pasien diabetes di Rumah Sakit idealnya dilakukan secara kolaborasi oleh berbagai spesialis sehingga dapat memberikan pelayanan secara holistik meliputi ahli endokrin, ahli penyakit kaki, ahli farmasi dan dokter gigi. Hal ini dilakukan untuk mencegah komplikasi dan penanganan dini dari komplikasi yang telah terjadi.

Referensi:

Sudoyo AW, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata M, dan Setiati S. 2009. Buku Ajar Ilmu. Penyakit Dalam Edisi 5. Jakarta: Interna.

SEARO World Health Organization. 2019. Diabetes Fakta dan Angka diunduh pada 11 Juni 2019 dari http://www.searo.who.int/indonesia/topics/8-whd2016-diabetes-facts-and-numbers-indonesian.pdf

WebMD. Hemoglobin A1c (HbA1c) Test for Diabetes diundur pada 10 Juni 2019 dari https://www.webmd.com/diabetes/guide/glycated-hemoglobin-test-hba1c

Team Care Approach for Diabetes Management. Working Together to Manage Diabetes: A GUIDE FOR PHARMACY, PODIATRY, OPTOMETRY, AND DENTISTRY. Diunduh pada 11 Juni 2019 dari https://www.cdc.gov/diabetes/ndep/pdfs/ppod-guide-team-care-approach.pdf.

Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2018. Hasil Utama Riskesdas diunduh pada 11 Juni 2019 dari http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi_rakorpop_2018/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf.

Design a site like this with WordPress.com
Get started